Rabu, 03 Juni 2015

MEA (Masyarakat Ekonomi Asean atau Masyarakat Enggan Aktif) ?



Banyak sekali masyarakat Indonesia yang mendukung keberadaan MEA (Masyarakat Ekonomi Aseaa). Mereka mendukung atas nama “kebebasan” perdagangan yang dianut oleh MEA tersebut. Tapi apakah benar-benar MEA memberi dampak yang baik bagi Indonesia?

MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) adalah bentuk integrasi ekonomi ASEAN yang menerapkan adanya perdagangan bebas antara 10 negara-negara ASEAN yang termasuk Indonesia di dalamnya. Dilihat dari penjelasan singkat tersebut muncul sebuah pertanyaaan, Sanggupkah Indonesia bersaing dengan 9 negara ASEAN lainnya dalam menghadapi MEA? Karena banyak hal-hal yang harus diperhatikan dalam mengahadapi MEA ini. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung mengatakan bahwa terdapat tiga strategi yang harus dilakukan Indonesia agar bisa menjadi pemimpin dalam MEA 2015. Ketiga strategi tersebut adalah: Pertama, Indonesia harus bisa menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang terdidik dan mempunyai inovasi; Kedua, Indonesia harus mempunyai perguruan tinggi yang bisa menghasilkan riset berkualitas internasional; dan yang terakhir, lulusan perguruan tinggi Indonesia harus mempunyai jiwa kewirausahaan. 

3 strategi tersebut seakan-akan mematahkan harapan negara Indonesia untuk bisa bersaing dalam MEA ini. Riset menunjukkan bahwa masih terdapat 50% masyarakat Indonesia hanya berpendidikan SD, dan hanya terdapat 10% yang bertamatan perguruan tinggi. Dari data riset tersebut sudah menghilangkan satu strategi untuk bersaing dalam MEA dan membuat Indonesia terlihat kurang siap dalam menghadapi MEA yang akan dilaksanakan pada tahun 2015 ini. Ditambah lagi dengan adanya ketentuan bahwa MEA memperbolehkan tenaga asing untuk mengisi peluang tenaga kerja profesional seperti dokter, akuntan, pegawai Bank, Pengacara dan profesi lainnya yang dirasa masih sedikit tenaga asing di dalamnya. 

Ketakutan-ketakutan inilah yang dirasakan oleh semua masyarakat Indonesia. Jangankan bersaing dalam MEA, dalam menempuh pendidikan ke jenjang yang leih tinggi saja masih belum mampu.  Akankah semua komponen-komponen dalam negeri dikuasai oleh asing? Ditambah lagi dengan jiwa konsumtif yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Kecenderungan membeli produk asing yang “katanya” terlihat lebih indah dan mewah pun sering untuk dibeli dibandingkan produk dalam negeri. 

Jika kita melihat beberapa tahun lalu, Indonesia telah mengeluarkan beberapa produk dalam negeri dengan label “Aku Cinta Produk Indonesia” yang sampai sekarang masih belum dicintai oleh masyarakat Indonesia. Bercermin dari hal kecil tersebut terlihat bagaimana kurang dihargainnya produk dalam negeri oleh masyarakat Indonesia.
Banyaknya produk ternama dunia pun menutupi peluang masyarakat kecil untuk terus berkembang dalam meningkatkan perekonomian dalam negeri. Hal tersebut menjadikan masyarakat enggan aktif dalam MEA karena keterbatasan-keterbatasan yang ada yang dimiliki oleh Indonesia dalam menghadapi MEA. Keterbatasan tersebut adalah kurangnya rasa percaya diri yang dimiliki masyarakat, diantaranya kurang percaya diri akan produk yang dimiliki, ilmu yang dimiliki, dan kecilnya dukungan dan apresiasi produk dalam negeri.
Dampak terburuk yang akan dirasakan Indonesia pun beragam, menurunnya pendapatan per-kapita, sulitnya mencari pekerjaan, semakin tingginya klasifikasi pendidikan yang dibutuhkan, bahkan bertambahnya pengangguran yang akan menjadi beban pemerintah dalam menjalankan tugas pemerintahan Indonesia. 

Terkadang sulit memang jika ingin melampaui sesuatu dengan banyak rintangan dan beberapa hal yang harus dibenahi. Akan tetapi, semua akan terasa mudah jika kita terlebih dahulu membenahi semua tugas yang harus dibenahi. Semoga detik-detik menuju dilaksanakannya MEA di tahun 2015 ini masyarakat dan pemerintah sadar akan pentingnya keberadaan MEA dan menjadikan masyarakat mengetahui bahwa bukan hal yang yang mudah dalam menghadapi MEA tersebut. Karena pertanyaan maut hanya satu. Akankah kita rela negara Indonesia mengubah “stampel” indah “Indonesia kaya segalanya” hanya karena “Indonesia miskin akan sumber daya manusianya” ?. Semoga negara tercinta kita ini bisa, akan, dan terus menjadi negara yang lebih baik dalam segala hal, terutama dalam sektor ekonomi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Correct me if I am wrong :)