Minggu, 13 September 2015

Pengabdian Mahasiswa Indonesia Untuk Anak Indonesia di Negeri Tetangga



 
Pada awal bulan Agustus 2015 terdapat 40 mahasiswa terpilih se-Indonesia untuk menjadi relawan tenaga pengajar anak buru migran di Sarawak, Malaysia. Bersama Volunteerism Teaching Indonesian Children (VTIC) Foundation yang dibina oleh Ineu Rahmawati serta bekerjasama dengan KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) dan KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Malaysia mahasiswa tersebut diterjunkan di 13 sekolah non formal yang terdapat di Sarawak.

Kegiatan VTIC Cycle ini berlangsung kurang lebih 3 minggu dengan rangkaian kegiatan yang meliputi pengajaran, pelatihan, dan penyuluhan mengenai anak dan kesehatan bagi para buruh migran di setiap ladang. Masyarakat di setiap ladang terlihat sangat antusias dengan kedatangan para mahasiswa. Dalam kegiatan ini mahasiswa pun mengadakan kegiatan upacara peringatan HUT RI ke-70 disetiap sekolah yang dihadiri oleh warga sekitar. Proses untuk bisa terciptanya upacara dalam peringatan HUT RI ke-70 pun tidak mudah karena para mahasiswa beserta para cikgu harus meminta izin kepada perusahaan untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Selain itu, terdapat beberapa perusahaan yang melarang untuk mengibarkan bendera di luar ruangan dan alhasil terdapat beberapa sekolah yang hanya bisa mengibarkan sang Merah Putih di dalam kelas. Kegembiraan dari raut wajah para anak buruh migran saat itu pun terlihat sangat bergembira dalam mengikuti perlombaan yang disediakan oleh para mahasiswa. Perlombaan yang disediakan diantaranya Lomba makan kerupuk, lomba kelereng, memasukkan paku dalam botol, lari estafet, balap karung, dan perlombaan-perlombaan lainnya. 

Minggu terakhir pengabdian para relawan dari VTIC ini pun ditutup oleh kegiatan PERSAMI yang diselenggarakan di ladang Telabit. Kegiatan tersebut diikuti oleh kurang lebih 11 Sekolah non formal. Terhambatnya perizinan dari perusahaan pun mengakibatkan terdapatnya 2 sekolah non formal yang tidak bisa mengikuti kegiatan PERSAMI tersebut. Dalam kegiatan persami terdapat pementasan seni yang berupa tarian dari berbagai daerah yang ada di Indonesia oleh para murid-murid dari setiap sekolah. Selain itu dalam kegiatan PERSAMI ini mengadakan perlombaan antar sekolah seperti Lomba Cerdas Cermat, Membaca Al-Qur’an, Adzan, Mewarnai, dan masih banyak lagi yang bisa mengasah percaya diri para anak Buruh Migran di Sarawak Malaysia. 

Dari hasil pengamatan para mahasiswa selama kurang lebih tiga minggu melihat bahwa banyak sekali hal yang harus perhatikan oleh pemerintah Indonesia. Kalimat “Pendidikan untuk semua” rasanya tidak bisa menutupi keadaan yang begitu miris yang belum banyak masyarakat Indonesia lihat.
Menurut kak Salim selaku koordinator Cikgu Sekolah non formal di Sarawak Malaysia masih terdapat banyak sekali anak yang belum bisa mendapatkan hak untuk  mengenam bangku pendidikan. Belum lagi dengan ditambahnya peraturan negara Malaysia yang melarang anak diatas usia 12 tahun untuk berada di Sarawak terkecuali anak tersebut harus mengikuti jejak orangtuanya untuk bekerja di Ladang. 

Ketidaktersediaannya Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan aturan negara Malaysia yang tidak memperbolehkan anak diatas usia 12 tahun untuk menetap bersama orangtuanya di ladang membuat mereka harus pulang ke tanah air untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (SMP). Akan tetapi masalah kepemilikan paspor yang sampai saat ini belum banyak dimiliki oleh para anak buruh migran di Sarawak menghambat mimpi para generasi emas Indonesia untuk meraih cita-cita yang mereka inginkan. 

Penutupan kegiatan PERSAMI sekaligus pelepasan kepulangan para 40 relawan ke Indonesia disambut oleh rasa haru dari setiap murid-murid dan cikgu asal yang berada dalam kegiatan tersebut. Perpisahan tersebut bukanlah akhir dari kegiatan VTIC yang rutin diadakan tiap tahunnya, akan tetapi kegiatan tersebut adalah awal dari bagaimana usaha para mahasiswa dan pihak-pihak yang bersangkutan untuk memperjuangkan anak TKI untuk meraih mimpi. Semoga untuk kedepannya pemerintah Indonesia lebih memperhatikan pendidikan bukan hanya dalam negeri, akan tetapi pendidikan para anak TKI yang berada dimanapun. Karena pendidikan tidak mengenal siapapun, kapanpun, dan dimanapun ia berada. Yang terpenting hanyalah bagaimana usaha kita untuk memeperjuangkan mimpi-mimpi aset negara agar selalu ada, terlaksana, dan menjadi generasi emas untuk Indonesia kedepannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Correct me if I am wrong :)